Harlah PCINU Sudan; Mengawal Visi dan Mengaktualkan Aksi

0
54
views

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan peringati Harlah yang ke-22 pada Rabu (6/04) pada pukul 19.00 CAT. Acara dimulai dengan salat Isya’ dan Tarawih berjamaah di halaman Wisma PCINU Sudan lalu dilanjut dengan pembacaan manaqib (biografi) dari Syekh Abdul Qadir al-Jailaniy oleh A’wan Syuriah, Kiai Abdul Ghofur B. Sh.

PCINU Sudan berdiri pada 01 Muharam 1420 H. bertepatan dengan 06 April 2000 M. Organisasi kemasyarakatan tersebut telah genap berusia 22 tahun pada tahun ini. Berdirinya PCINU Sudan sendiri tidak lepas dari kebutuhan untuk belajar berorganisasi, berdakwah, dan bermasyarakat meskipun banyak tantangan dan rintangan baik dari dalam maupun dari luar. Bahkan saat itu ada sebagian kelompok yang menginginkan agar NU tidak berdiri di Sudan. Akan tetapi, berkat rahmat dan pertolongan Allah Subhanahu wa ta’ala, PCINU Sudan tetap eksis sampai sekarang.

Baca juga PCINU Sudan; Sejarah, Legalitas, dan Hal yang Perlu Diketahui Generasi Milenial

Peringatan Harlah ini juga sebagai rasa syukur jajaran pengurus dan nostalgia (NUstalgia) sejarah dalam momentum Harlah PCINU Sudan ke-22, serta untuk meneguhkan spirit Santri NU Sudan dalam mengawal visi dan mengaktualkan aksi dalam berkhidmah di PCINU Sudan. Harlah ini juga dimeriahkan dengan penampilan grup hadroh Jam’iyyah Syifaul Qulub (JSQ) dan pemutaran video pesan dan kesan selama di PCINU Sudan dari beberapa Alumni yang telah berkhidmah di Indonesia, di antaranya dua Katib Syuriyah PBNU; Dr. KH. Hilmy Muhammad, M.A. dan Dr. KH. M. Afifudin Dimyathi, L.c., M.A.

Dalam sambutannya, Ketua Tanfidziyah PCINU Sudan menyampaikan pentingnya menengok ke belakang kiprah kader-kader NU Sudan di masa lalu agar menjadi pemantik semangat aktualisasi visi-misi kader NU Sudan sekarang.

“Berangkat dari sejarah, saya kira ada benang merah kesamaan di setiap masa periode kepengurusan, yaitu semangat untuk menjalankan amanah organisasi sebaik-baiknya, dengan mengejawantahkan program yang sudah tersusun kedalam program aksi,” tutur Ketua Tanfidziyah, Ustaz M. Abdurrokhim kepada redaksi pcinusudan.com

“Barangkali hanya satu yang membedakan, yaitu masing-masing bergerak dalam ruang dan waktu yang tidak sama, sehingga capaian target masing-masing tidaklah serupa, karena sejatinya capaian target itu merupakan akumulasi dari respon masing-masing atas situasi dan kondisi yang ada, untuk sebesar-besarnya dimanfaatkan bagi kemajuan NU jam’iyyah maupun jama’ah,” lanjutnya.

Pemotongan tumpeng sebagai simbolisasi Harlah PCINU Sudan ke-22 dan ngobrol santai dengan para Ketua Angkatan yang dimoderatori oleh Sdr. Ramadan Effendi turut membuat acara tersebut semakin meriah, lalu acara Harlah ditutup dengan foto dan makan bersama.

Memaknai Harlah ke-22 PCINU Sudan; Mengawal Visi, Mengaktualkan Aksi

Harlah ke-22 PCINU Sudan (6 April 2000-6 April 2022) menjadi momentum penting bagi PCINU Sudan dalam mengawal visi jamiyyah (GoInternationalNUSudan) dan penguatan militansi juang kader Nahdlatul Ulama yang ada, untuk terus bergerak menjalankan agenda-agendanya dalam meneguhkan eksistensi organisasi dengan mengaktualkan aksi dalam berkhidmah.

Pada dasarnya, momentum Harlah ke-22 PCINU Sudan ini adalah alarm bagi kader NU Sudan semua agar terus meningkatkan kualitas pengabdiannya, serta bergerak lebih maju bersama untuk benar-benar bisa dirasakan kemanfaatannya pada jamiyyah dan jamaah, bukan hanya saja soal amaliyyah, tapi juga manhaj fikrah serta muamalah ala Nahdlatul Ulama.

Momentum Harlah ini kita maknai sebagai bentuk representasi dalam menuai banyak inspirasi bagi PCINU Sudan untuk selalu berbenah diri dalam menggoptimalkan potensi kader-kader yang ada. Karena kualitas organisasi kini menjadi agenda prioritas dalam meneguhkan komitmen pencapaian target sejak tujuan awal pendiriannya.

Perjalanan tonggak estafet kepemimpinan silih berganti, regenerasi kepemimpinan berlangsung sejak awal mula PCINU Sudan didirikan. Sejak tahun 2000, disaat Dr. KH. Ahmad Sayuti Anshori Nasution dipilih sebagai Rais Syuriyah dan KH. Muhamad Sangid sebagai Ketua Tanfidziyah. Bukti tanda awal terbentuknya nahkoda kepemimpinan secara struktural di PCINU Sudan.

Berdirinya PCINU Sudan tidak lepas dari kebutuhan untuk belajar berorganisasi, belajar berdakwah, dan belajar mengelola masyarakat meskipun banyak tantangan dan rintangan baik dari dalam dan dari luar. Berangkat dan bergerak dengan visi Islam ‘ala thariqati ahlissunnah wal jama’ah yang berwawasan keindonesiaan yang akrab dibahasakan menjadi Aswaja An-Nahdliyyah, dengan misi memasyarakatkan Aswaja dan mengaswajakan masyarakat.

Dalam momentum Harlah ini, ada poin penting bagi kita kader NU Sudan:

Pertama, kita ingin sekali menghaturkan terima kasih setulus-tulusnya kepada Assabiqunal awwalun, para penggagas berdirinya PCINU Sudan, yang telah mewariskan organisasi ini secara utuh kepada kita, menanamkan spirit ke Nahdlatul Ulama-an, menjadikan NU sebagai rumah besar yang nyaman kita tempati seperti sekarang ini.

Kedua, kita sebagai penerima roda estafet kepengurusan PCINU, pastinya kita harus menoleh kebelakang, apa kira-kira yang belum sempat dikerjakan para pendahulu, yang itu merupakan bagian dari mata rantai perjuangan besar yang sudah mereka perjuangkan, untuk selanjutnya kita tindak lanjuti, demi tujuan yang sama, yaitu lebih membesarkan NU, demi kemanfaatan yang sebesar-besarnya bagi jamiyah dan jamaah.

NUstalgia malam ini dalam momentum usia ke-22 PCINU Sudan, mari kita akhiri dengan harapan semakin terpupuknya militansi kuat, baik dari jajaran Mustasyar, Syuriyah, Tanfidziyah, Lembaga, Perangkat, Badan Otonom, dan anggota Santri NU Sudan. Karena kita semua adalah sekrup-sekrup kecil bagi jamiyah yang kita yakini mampu membuat langkah kemajuan dalam lanskap organisatoris demi kejayaan NU Sudan di masa mendatang.//(Najmuddin)

Tinggalkan Balasan