Memahami Konsep Ilmu Hadits dalam Ushul Fiqih

0
54
views
Sumber gambar: nu.or.id

Jika kita lihat dari klasifikasi ilmu, ilmu hadits atau musthalah hadits dan ushul fiqih sama-sama tergolong ilmu alat, di mana fungsi ilmu alat adalah untuk memahami ilmu-ilmu maqashid dan memahami nash secara langsung, yakni Al-Quran dan Hadits.

Dalam penggalian hukum (istinbat), ilmu alat juga sangat urgen posisinya dalam mengambil intisari dari sebuah nash untuk bisa menjadi produk hukum yang dapat dikonsumsi semua orang. Meski ilmu ushul fiqih lebih dominan dalam hal ini, namun ilmu hadis tak kalah andil dalam proses istinbat. Karena musthalah hadis ibarat tangga yang dibutuhkan ushul fiqih untuk memetik buah hukum yang berada pada pohon nash.

Kita sebagai thalibul ilm telah mengetahui bahwa hadit shahih dan hasan bisa menjadi hujjah atau landasan hukum. Sedangkan hadits dhaif tidak bisa kita pakai dalam proses istinbat, melainkan hanya untuk fadhailul a’mal (amal-amal baik) saja. Namun pertanyaannya, apakah praktik penggalian hukum memang berjalan seperti itu? Bukankah banyak hadits yang ternyata dhaif justru masyhur kita dengar dan malah digunakan fuqaha (ulama pakar fikih) untuk melegitimasi produk hukum mereka, seperti hadits (لَا وَصِيَّةَ لِوَارِث). Hadits ini dhaif, tapi justru sering kita temukan dalam kitab-kitab fikih saat pembahasan wasiat atau warisan (mirats).

Dari sini, kita pasti akan kebingungan jika tidak tahu bagaimana pengaplikasian (tathbiiq) ilmu hadits saat pengambilan hukum yang dilakukan oleh fuqaha. Lho katanya hadits ini lemah kok malah jadi landasan hukum?

Untuk menjawab persoalan tersebut sebenarnya mudah saja. Jika kita telisik syarat-syarat ke-shahih-an sebuah hadits yang diajukan oleh para muhaddits (ahli hadis) dan kita bandingkan dengan syarat-syarat yang dipegang oleh fuqaha pasti kita menemukan benang merah di antara keduanya.

Baca juga: Memaknai Humanisme KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Jadi, ternyata syarat diterimanya sebuah hadits menurut fuqaha dan ahli hadis itu berbeda. Misal, ada sebuah riwayat yang diusung perawi (pembawa hadits), namun ternyata hadis tersebut diinkari oleh ahli hadits lainnya yang justru lebih kuat hafalannya ketimbang dia atau bahkan banyak rawi lain yang menafikan hadits tersebut. Menurut pandangan fuqaha dan ushuliyyin, riwayat yang seperti ini tetap diterima. Sebab orang yeng mengitsbatkan hadits lebih didahulukan daripada yang menafikannya. Sedang menurut para ahli hadits, riwayat ini tidak diterima dan digolongkan sebagai hadits syadz yang merupakan bagian dari hadits yang dhaif dan tertolak kehujjahannya. Hal ini diterangkan oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghudah di catatan kaki dalam kitab Al Muqidzah karya Adz-Dzahabi.

Jadi banyak sekali kecacatan hadits (illat) menurut ahli hadits namun tidak dianggap masalah oleh fuqaha. Atau bahkan hadits yang dhaif sekalipun banyak dipakai oleh fuqaha, seperti halnya ulama Hanafiyyah yang menerima semua riwayat mursal untuk dijadikan hujah.

Adapun hadits (لَا وَصِيَّةَ لِوَارِثٍ) di atas atau hadits (ادْرَءُوا الْحُدُودَ بِالشُّبُهَاتِ) yang sering juga kita temukan dalam kitab fiqih atau qawaid fiqih, fuqaha mempunyai pandangan sendiri dalam menyikapinya. Mereka mempunyai kaidah “Setiap hadis yang disambut dan diterima oleh mayoritas umat harus diamalkan meskipun dhaif”. Kesimpulanya, kita dihadapkan dengan dua madrasah yang mempunyai metodologi masing-masing.

Kita tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan mempelajari ilmu hadis tanpa menyandingkannya dengan ushul fiqh

Sebagaimana yang sering guru kami Prof. Dr. Muhammad Salim Abu Ashi katakan, kita tidak boleh mencukupkan diri hanya dengan mempelajari ilmu hadis tanpa menyandingkannya dengan ushul fiqih. Agar kita tahu bagaimana pengaplikasian ilmu hadis saat dijadikan landasan sebuah hukum.

Beliau pun memberikan kami manhaj dalam mempelajari ilmu hadis, yaitu seorang pelajar jangan terlalu lama berkutat dalam ilmu mushtalah. Nuzhatun Nadhar karya Ibnu Hajar Al-Asqalaniy sudah cukup untuk memberikan pemahaman ilmu mushtalah dalam diri seorang tholibul ilm. Beliau juga menekankan bahwa matan Nukhbatul Fikr adalah matan yang paling recommended untuk dihafalkan, karena matan ini ringkas dan lebih detail dibanding Al-Baiquniyyah yang kita pelajari saat ibtida’.

Selanjutnya, kita bisa membaca Al-Muqidzoh karya imam Adz-Dzahabi agar kita mengetahui perbedaan metode dan cara pandang muhadditsin dan fuqaha. Lalu, kita habiskan waktu untuk membaca kitab-kitab yang menuntun kita dalan tathbiq ilmu mushtalah, seperti Risalah Abi Dawud ila Ahli Makkah, Ilalul Hadis, Irsyadus Sari, dan lainnya.

Syekh Salim selalu memberikan wejangan kepada kami bahwa waktu kita dalam tholabul ilmi itu tidak banyak, hanya sebentar, maka jangan sampai waktu kita yang sebentar itu kita gunakan untuk belajar ilmu yang tidak bermanfaat atau kita belajar dengan cara yang salah. Di sinilah pentingnya ber-manhaj dalam belajar.


Penulis: M. Iqbal Marzuqi (Mahasiswa Al-Azhar Mesir)

Tinggalkan Balasan