Memaknai Humanisme KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

0
26
views
Sumber gambar: demens.nu

Humanisme adalalah paham yang memusatkan manusia sebagai pusat realitas. Humanisme adalah pemikiran, paham, dan gerakan. Lahir di Barat sebagai reaksi atas peradaban dehumanisasi, dari abad pertengahan yang menampilkan wajah persatuan antara agama dan negara.

Dalam persatuan ini manusia menjadi kerumunan moralitas yang sholeh dan harus tunduk pada doktrin gereja atas nama sakralitas Tuhan. Gerakan humanis ini dimulai dari Italia, merambat dengan cepat ke Jerman, Prancis, Belanda, dan negara Barat lainnya. Sulit dipastikan mana yang lebih dahulu  berperan dalam menatap modernisasi barat, humanisme, atau ilmu pengetahuan modern.

Dalam diskursus kali ini penulis tertarik untuk mengkaji pemikiran Gus Dur tentang konsep humanis dalam tata kelola ke-Indonesia-an menurut Gus Dur. Di sini, penulis berusaha menyajikan pemikiran humanis Gus Dur tentang vitalitas agama bagi perjuangan menegakkan moralitas, keadilan, dan kasih sayang sesama manusia. Signifikansinya dalam pembahasan ini adalah pemikirannya yang sedemikan luas dan penggagas yang terbilang nyentrik nan unik dalam kapasitas khazanah keilmuan yang sangat luas.

Gus Dur sangat maju dan kreatif melontarkan hal-hal baru, semaju dan kreatifnya dalam memperjuangkan lika-liku kemanusiaan di Indonesia. Ketokohannya dalam pergerakan terkenal sebagai figur yang memperjuangkan kemanusiaan, demokrasi, pluralisme, islam inklusif, keadilan, kasih sayang dan hak asasi manusia, dan pribumisasi islam.

Prinsip kemanusiaan Gus Dur sebagai seorang muslim mendasarkan kemanusiaan itu didalam tradisi islam, yakni: dalam apa yang ia sebut sebagai ghayat al-mashlahat (puncak dalam kemaslahatan) yang tercover oleh tujuan utama dalam syariat islam (maqasid al-syariah) berupa perlindungan atas hak hidup, hak beragama, hak berpikir, hak kepemilikan, dan hak atas keluarga dalam lingkup keturunan.

Meskipun beberapa pemikir berpendapat bahwa humanisme ini berasal dari barat yang berasal dari kata de humanism, tapi humanisme Gus Dur ini tidak bisa dikategorikan sekuler, melainkan pada gerakan kontekstualisasi yang terimplementasi pada keadilan yang benar-benar dirasakan oleh masyarakat. Humanisme yang dilakukan Gus Dur sangat dalam akan pemaknaannya. Gus Dur melakukan humanisme ini sungguh realitas untuk kemanusian sebagai contoh dalam kasus memperjuangkan agama konghucu agar diakui menjadi agama resmi di Indonesia.

Pandangan humanisme Gus Dur tertanam kuat dari pemahamannya terhadap Islam. Humanisme Islam yang ia kedepankan adalah menyangkut ajaran-ajaran Islam tentang toleransi dan keharmonisan sosial yang mendorong seorang muslim tidak seharusnya takut pada suasana plural yang ada di masyarakat modern. Sebaliknya harus meresponi dengan positif. Pandangan humanismenya dapat dilihat dari gairahnya yang besar terhadap perubahan yang demokratis, kebebasan berbicara dan nilai-nilai yang diwujudkan pada umumnya.

Nilai-nilai yang diambil Gus Dur dalam humanismenya diantaranya; wujud ketauhidan, relatifitas kemanusiaan, kesetaraan (egalitarianisme), keadilan, kebebasan dalam mengutarakan hak dan kewajiban, kesederhanaan, dan kearifan lokal yang ada di Indonesia.

Tipologi sikap humanisme Gus Dur mengambil dari asal usul sari pati dari inti tujuan Islam, yaitu ihsan atau biasa disebut dengan tasawuf. Karena puncak dari humanisme Gus Dur adalah ketuhanan, sama-sama merefleksikan diri sebagai seorang hamba dari wujud manusia yang ingin menyatu dengan Tuhan yang Maha Esa (tajalli ila rabbi).

*Tulisan ini meneruskan kesimpulan pertemuan 3NG terkait tema: Humanisme dan Pluralisme Menurut Gus Dur

Kontributor: Gedibal Sandal

Tinggalkan Balasan