Mengenal Bangsa Arab Pra-Islam dan Alasan Disebut Zaman Jahiliyyah

0
39
views
Gambar: nukhatulistiwa.com

Mengenal Bangsa Arab Pra-Islam dan Alasan Disebut Zaman Jahiliyyah – Penulisan sejarah atau historiografi sangat menarik untuk dibahas dalam dunia keilmuan. Selain pendekatan studi dalam pelaporan hasil penelitian sejarah, historiografi juga merupakan sebuah studi tentang teknik yang biasa digunakan para penulis sejarah dalam karyanya.

Sejarah dalam bahasa Arab yaitu “syajarah” yang berarti pohon. Pengambilan istilah ini dikarenakan pandangan orang pertama yang menggunakan kata ini menyangkut tentang syajarah al-nasab, pohon genealogis (sejarah keluarga) dan bisa jadi kata kerja “syajarah” yang juga punya arti to happen, to occur, dan to develop. Selanjutnya, sejarah dipahami mempunyai makna yang sama dengan tarikh (Arab), istoria (Yunani), history atau geschicte (Jerman).

Istilah sejarah juga berasal dari kata benda Yunani, yaitu istoria yang berarti ilmu. Kemudian pada perkembangannya istilah istoria lebih banyak dipakai untuk pemaparan yang menyangkut gejala-gejala, terutama tentang keadaan manusia dalam urutan kronologis.

Jika penulisan sejarah ini dikaitkan dengan masyarakat Arab Pra-Islam tentu akan mengacu kepada zaman yang disebut Zaman Jahiliyyah. Mereka juga mempunyai ingatan yang kuat sehingga mereka unggul di bidang sastra, namun masih kurang dalam hal penulisan.

Geografis Jazirah Arab

Jazirah secara etimologi berasal dari bahasa Arab yang berarti “kepulauan”, Arab secara etimologi berasal dari kata Arabia yang berarti “gurun pasir” atau “sahara”. Dari segi geografis, sebenarnya Arab bukanlah sebuah kepulauan, sebab salah satu dari empat penjuru perbatasannya tidak berbatasan dengan laut.

Di sebelah barat berbatasan dengan laut Merah dan gurun Sinai, sebelah timur dengan Teluk Arab (Persia), sebelah selatan dengan laut Hindi, dan di sebelah utara dengan gurun (padang pasir) Irak dan Syiria. Jazirah Arab terletak di sebelah barat daya Asia, terbagi atas dua bagian, bagian tengah dan bagian tepi.

Jazirah Arab dengan luas satu juta mil persegi atau tepatnya 1.745.900 km ini lah yang menjadi kediaman mayoritas bangsa Arab. Akan tetapi, bangsa Arab juga mendiami daerah-daerah sekitar jazirah. Tanah Arab juga disebut Pulau Gundul karena tanah Arab merupakan suatu tanah semenanjung yang kurang subur dan terdapat banyak gunung batu. Ada beberapa sungai yang mendiaminya dengan aliran yang tidak tetap dan lembah-lembah berair di musim hujan.

Asal-Usul Bangsa Arab

Bangsa Arab pra-Islam biasanya disebut Arab Jahiliyah. Bangsa yang belum berperadaban, bodoh, dan tidak mengenal aksara. Namun, bukan berarti tidak seorang pun dari penduduk masyarakat Arab yang tidak mampu membaca dan menulis, karena beberapa orang sahabat Nabi diketahui sudah mampu membaca dan menulis sebelum mereka masuk Islam. Hanya saja, baca tulis ketika itu belum menjadi tradisi, tidak dinilai penting, tidak pula menjadi tolak ukur kepintaran dan kecendekiaan seseorang.

Asal-muasal masyarakat keturunan Arab terbagi menjadi dua golongan besar. Pertama, berasal dari keturunan Qathan, yaitu golongan Qathan Iyun yang berwilayah di bagian selatan. Kedua, dari keturunan Ismail bin Ibrahim, yaitu golongan Adnaniyun yang berada di wilayah bagian utara. Tetapi, dalam perjalanannya, kedua golongan ini saling berbaur akibat dari perpindahan penduduk.

Bangsa Arab bagian utara telah mengenal tulis-menulis sebelum datangnya Islam sehingga mereka dikenal sebagai orang-orang yang memiliki kemampuan tinggi dalam mengubah syair. Syair-syair tersebut diperlombakan kemudian yang unggul akan ditulis dan digantungkan di dinding Ka’bah.

Melalui tradisi sastra tersebut, diketahui bahwa peristiwa-peristiwa besar dan penting secara faktual ikut memberi pengaruh serta mengarahkan perjalanan sejarah mereka. Nilai-nilai yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa penting itu, mereka abadikan dengan berbagai cara, seperti kisah, dongeng, nasab, nyanyian, dan syair.

Peristiwa-peristiwa sejarah pada saat itu disimpan dalam ingatan mereka. Bukan hanya karena mereka buta aksara, tetapi juga karena mereka beranggapan bahwa kemampuan mereka lebih terhormat. Semua peristiwa sejarah tersebut diingat dan diceritakan berulang-ulang secara turun-temurun. Demikian pula dengan hadis-hadis Nabi.

Bila dilihat dari segi sosiologis dan antropolis bangsa Arab mempunyai tingkat solidaritas yang tinggi terhadap kesukuan, maka sering terjadi kekacauan dan peperangan di antara suku-suku yang ada. Hal ini menjadikan kebudayaan mereka di saat pra-Islam menjadi tidak berkembang. Itulah salah-satu penyebab bahan-bahan sejarah Arab pra-Islam sangat langkah untuk ditemukan di dunia Arab dan dalam bahasa Arab. Pengetahuan tentang Arab pra-Islam diperoleh melalui syair-syair yang beredar di kalangan para perawi syair.

Masyarakat Arab pra-Islam mempunyai tradisi yang disebut al-ayyam (hari-hari penting) dan al-anshab (silsilah). Al-ayyam adalah peristiwa peperangan antar kabilah Arab. Di lingkungan kabilah Arab jahiliyah sering terjadi perang antar kabilah atau suku, baik disebabkan perselisihan untuk memilih pemimpin, perebutan sumber air, dan perebutan padang rumput untuk pengembalaan binatang ternak. Peristiwa ini berkonsep pihak penyerang akan menyerbu rombongan dari suku lawan dan membawa pergi barang jarahan mereka. Dalam penyerangan tersebut, mereka sangat berhati-hati agar tidak ada korban jiwa karena hal itu akan memancing kemarahan dan aksi balas dendam. Hal ini dilakukan untuk tujuan membanggakan diri terhadap kabilah-kabilah yang lain.

Al-Anshab adalah bentuk tradisi pra-Islam yang mengandung banyak sejarah yang artinya silsilah. Al-Anshab adalah kata jamak dari kata “nasab” yang berarti silsilah (genealogi). Sejak masa jahiliyah orang-orang Arab sangat memperhatikan dan memelihara pengetahuan tentang nasab. Kala itu, pengetahuan tentang nasab merupakan salah satu cabang yang dianggap penting. Setiap kabilah menghafal silsilahnya. Semua anggota keluarga juga mengahafalnya agar tetap murni dan silsilah itu dibanggakan terhadap kabilah lain.

Baca juga: Perdebatan Ulama Tentang Nuzulul Quran

Agama Bangsa Arab Pra-Islam

Menurut Watt dalam bukunya Muhammad’s Mecca (1998) menyimpulkan adanya 4 sistem kepercayaan yang berkembang di Arab pra-Islam:

Fatalisme, kepercayaan ini menganggap bahwa waktu merupakan menifestasi dari Tuhan. Menurut mereka terdapat dua hal yang wujudnya ditadirkan, yaitu kematian dan rezeki.

Paganisme, kepercayaan ini menganggap bahwa realitas yang niscaya dalam masyarakat Arab.

Kepercayaan kepada Allah sebagai Tuhan pencipta alam semesta, pemberi hujan dan kehidupan yang ada di muka bumi, Tuhan Ka’bah, dan Tuhan yang disembah melalui perantaraan dewa-dewa.

Monotheisme, kepercayaan ini memunculkan tiga teori, dari agama Yahudi, evolusi pemikiran dari masyarakat secara umum, dan agama yang dibawa Nabi Ibrahim a.s..

Kesustraan Bangsa Arab

Sebagai bangsa yang cinta syair mereka sangat berpengaruh terhadap masyarakat. Bahkan sering menggelar pergelaran di pasar-pasar, seperti Ukaz dan Zulmajz. Syair-syair pada zaman itu digunaan sebagai nyanyian kemenangan suku dan mengekspresikan etos keberanian, kemurahan hati, kehormatan, dan keunggulan keturunan. Syair-syair dapat dijadikan pula sebagai bahan informasi sejarah bangsa Arab pada zaman dahulu.

Kondisi kekeluargaan Bangsa Arab

Perlakuan masyarakat Jahiliyyah pra-Islam yang tidak manusiawi adalah menanam bayi perempuannya hidup-hidup, karena takut hinaan. Hanya saja tradisi ini tidak memasyarakat di seluruh bangsa Arab. Penanaman bayi secara hidup-hidup ini terjadi di sebagian kalangan masyarakat kelas bawah karena takut jatuh miskin, terutama di lingkungan masyarakat bani Asad dan Tamin.

Namun perlakuan mereka terhadap anak laki-laki adalah penuh kasih sayang, kecuali di sebagian keluarga miskin dan dhu’afa. Di kalangan ini mereka tak segan-segan membunuhnya karena takut miskin. Sedangkan kepada saudara dan keponakan mereka akan selalu menolong dan membelanya, baik dalam posisi benar atau salah. Jika hal tersebut tidak mereka lakukan mereka akan merasa ternoda.

Keadaan Ekonomi

Masyarakat Arab terbagi menjadi dua, pedalaman yang disebut ahlul badui dan perkotaan yang disebut ahlul hadloroh. Ahlul badui hidup berpindah-pindah dan penghasilan ekonomi mereka dari pertanian dan peternakan. Sedangkan ahlul hadloroh berpenghasilan dari berdagang. Dengan wilayahnya yang strategis menjadikan mereka bermata-pencaharian mayoritas menjadi pedagang. Walaupun wilayahnya gersang tapi ramai dikunjungi orang karena terdapat bangunan Ka’bah. Ada pula yang berdagang dengan cara mengekspor barangnya ke negeri Syam di musim panas dan ke negeri Yaman di musim dingin.

Kenapa Disebut Zaman Jahiliyyah?

Dengan keilmuan sastra yang tinggi, tempat yang strategis, dan ilmu ekonomi yang mapan seharusnya menjadikan bangsa ini sudah terbilang maju. Namun istilah Al-Quran yang menamakan mereka dengan nama jahiliyyah dalam hal moralitas, yaitu norma-norma pergaulan antar sesama, permusuhan antar kabilah, dan penyelewengan hak asasi manusia. Dan juga mereka bodoh dalam hal teologi, yang mana mereka menyembah berhala yang tak mampu berbuat apa-apa untuk mereka.

Penting kiranya kita membaca dan mempelajari sejarah orang-orang zaman dahulu agar kita bisa mengambil hikmah dari kejadian-kejadian tersebut. Di samping itu, sejarah adalah salah satu cabang ilmu yang mudah dipahami oleh kebanyakan orang dibandingkan cabang-cabang ilmu yang lain karena sifatnya yang seperti cerita. Hal ini tak lepas dari kerja keras para sejarawan yang berusaha keras menggali dan meneliti sejarah zaman dahulu sehingga kita bisa menikmati hasil penelitiannya dengan mudah.

Penulis: Lukman Al Khakim (mahasiswa University of The Holy Quran and Islamic Sciences Omdurman Sudan)

Tinggalkan Balasan