Nasihat dalam Shalat

0
54
views
Gambar: kompas.com

Shalat merupakan ibadah yang sudah ada sejak zaman sebelum Nabi Muhammad. Perintah shalat kepada umat Muhammad turun ketika Rosulullah menghadap kepada Allah Swt. dalam perjalan Isra’ Mi’raj. Di sana diturunkanlah perintah untuk melaksanakan salat 5 waktu dengan tata cara yang kita ketahui saat ini.

Di dalam shalat, kita diwajibkan dan disunahkan untuk mengamalkan beberapa gerakan dan zikir yang berkaitan dengannya. Mengapa? Karena bagi seorang muslim, apalagi seorang santri, kita harus selalu berzikir barulah kemudian berpikir dalam mengerjakan sesuatu.

Takbiratul Ihram adalah gerakan yang mengawali shalat dan waktu di mana kita melafalkan niat. Di sini nasihat yang bisa disinyalir adalah bahwasanya manusia boleh saja dalam keadaan sehat atau sakit, cerdas atau bodoh, kaya atau miskin, mulia atau hina, namun tetap berkewajiban untuk menunaikan shalat. Takbir merupakan himbauan Allah kepada kita bahwa segala sesuatu yang kita temui adalah kehendak Allah semata dan agar kita menghadap kepada-Nya dengan kesadaran yang sungguh.

Surat al-Fatihah merupakan kunci dari al-Quran. Kewajiban membacanya merupakan isyarat bahwa al-Fatihah adalah ringkasan makna dan fadilah al-Quran, dan dalam menjalani hidup di dunia al-Fatihah merupakan pedoman untuk merasa, berpikir, dan bertindak bagi manusia. Bahwasanya Allah menciptakan manusia dengan kasih sayang, memelihara manusia dengan kasih sayang, dan memberi rizki dengan kasih sayang.

Ruku’ merupakan nasihat agar kita senantiasa menundukkan diri hanya kepada Allah. Bahwasanya dalam perjalanan mempelajari, mengamalkan, menghidupkan, dan mendakwahkan agama kita pastinya akan dihadapkan pada kesulitan-kesulitan yang tidak kita kehendaki. Maka di tengah kesulitan yang membuat kita gelap hati, kita harus selalu mengingat bahwa kesulitan ini datang atas izin Allah sebagai ujian untuk menempa keimanan kita dan sebagai kesempatan untuk memberikan bekal di perjalanan kita yang selanjutnya setelah kesulitan ini. Tasbih merupakan zikir yang Allah ajarkan pada kita agar senantiasa membersihkan hati, mata, dan akal kita dari segala sesuatu yang melemahkan keyakinan kita pada Allah.

I’tidal merupakan nasihat bagi kita bahwa segala kesulitan pasti ada kemudahan dan jalan keluar. Maka di saat kemudahan dan jalan keluar itu tiba di hadapan kita, janganlah lupa untuk memuji Allah agar kita bisa senantiasa memulangkan kesombongan, keangkuhan, dan kebanggan yang ada dalam hati kita kepada Allah.

Baca juga: Mengenal Bangsa Arab Pra-Islam dan Alasan Disebut Zaman Jahiliyyah

Sujud merupakan nasihat bagi kita bahwa kesuksesan dan kegagalan dalam urusan dunia dan akhirat yang kita temui di perjalanan menuju kematian adalah hanya untuk menyembah Allah, sebagaimana kesuksesan seharusnya mendidik kita untuk bersyukur, sedangkan kesulitan dan kegagalan mendidik kita untuk bersabar.

Manusia hidup selalu diombang ambing dalam keadaan yang naik turun bagaikan amplitudo getaran yang kita pelajari di sekolah. Di kala garisnya melengkung naik berarti momen ketika manusia menjalani masa kesuksesan, keberhasilan, dan kejayaan sampai ke puncaknya sebagaimana matahari yang terbit juga akan terbenam, dinamika manusia juga akan menghadapi akhir kesuksesan, keperkasaan, dan kejayaan menuju masa kelemahan dan ketidakberdayaan.

Tidaklah ada cerita seorang pun manusia yang selalu hidup dalam keadaan bahagia sebagaimana ia selalu dalam keadaan susah. Tidak ada seorang pun manusia yang akan selalu bodoh, miskin, dan hina sebagaimana tidak ada seorang pun yang akan selalu cerdas, kaya, dan mulia. Lebih dari itu, pastinya juga tidak ada manusia yang selalu benar sebagaimana tidak ada manusia yang selalu salah.

Maka di tengah proses terombang-ambingnya manusia di dalam dualitas realita kehidupan, sujud mengajarkan kita untuk selalu ingat dan bertasbih kepada Allah agar kita mampu menghadapi kemudahan, kesuksesan, dan kejayaan dengan syukur yang suci sebagaimana kita menghadapi kesulitan, kegagalan, dan kehinaan dengan sabar yang suci hanya memandang wajah Allah dengan kelembutan yang penuh cinta dan kasih sayang sebagai hamba kepada Tuhannya. Maka dari itu, Iftirosy menganjurkan kita dalam zikirnya untuk meminta ampun, meminta kasih sayang, meminta naiknya derajat kita sebagai hamba, meminta rizqi, kesehatan, dan ampunan kembali.

Yang terakhir adalah Tahiyyat. Ia adalah nasihat bagi manusia agar supaya kita sadar bahwa dalam perjuangan, baik ketika masih hidup ataupun sudah mati, kehormatan, kesuksesan, dan salat yang baik adalah hanya milik Allah. Maka ketahuilah bahwa dalam perjalanan kita harus selalu bersalam kepada Nabi Muhammad saw. sebagaimana kita juga harus bersalam kepada seluruh hamba Allah yang telah mendahului kita dan menyebarkan salam kepada seluruh makhluk. Bagi seorang muslim, kita tidak hidup sendiri dan juga tidak akan mati sendiri. Maka menyebarkan salam adalah maksud dan cara kita agar hidup dan mati dalam keadaan selamat.

Syahadatain merupakan arahan bagi kita bahwa dalam memupuk keyakinan harus dimulai dengan menafikan segala sesuatu sebagai sesembahan selain Allah. Ia juga bermaksud menyampaikan bahwa dalam memupuk keyakinan akal harus berhenti berspekulasi, berdeduksi, dan berargumentasi agar supaya hati bisa meyakini. Barulah disusul dengan kalimat yang bentuknya ijab / positif, yaitu bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Bahwa tutur kata dan suri tauladan beliau lah panutan kita dalam mengamalkan, menghidupkan, dan mendakwahkan agama.

Kita juga harus melaksanakan shalat sebanyak 17 rakaat sehari minimalnya. Ini merupakan nasihat bahwa dalam perjalanan memperjuangkan agama kita tidak boleh menyerah dan selalu istiqomah untuk menasehati diri sendiri utamanya dan orang lain kalau bisa setidaknya 17 kali. Juga menandakan bahwa perjalanan dalam belajar dan berjuang jadi orang saleh tidak lah singkat dan mudah, melainkan ia sangatlah panjang dan sulit. Namun semua tetap merupakan kehendak Allah, maka apapun yang terjadi kita harus memandang segala sesuatu sebagai wujud kasih sayang Allah agar kita bisa hidup dan mati dalam keadaan selamat dan husnul khotimah.

Penulis : Adzkar Ilahi Rifa’i

Tinggalkan Balasan