Perempuan Dalam Kacamata Gus Dur

0
25
views
Ngopi Ngalor Ngidul (3NG)
Ngopi Ngalor Ngidul (3NG)

Sebagai lanjutan pembahasan pluralisme dan humanisme menurut Gus Dur pada pertemuan lalu oleh Komunitas Ngopi Ngalor Ngidul (3NG), Gus Dur juga amat memberi perhatian yang lebih terhadap hak-hak kaum minoritas apalagi yang tertindas, dalam kasus ini adalah perempuan dalam kacamata Gus Dur. Sebagaimana sikap beliau terhadap masyarakat Konghucu, beliau juga memperhatikan emansipasi wanita dan kesetaraan gender mengingat wanita masih dianggap sebagai kaum minoritas yang lemah.

Kepedulian Gus Dur pada kaum minoritas terutama perempuan tidak usah diragukan lagi. Beliau tidak banyak wacana, konsep, opini, atau definisi, namun beliau lebih memberikan contoh konkrit dalam segala aktivitas beliau, terutama mengenai feminisme. Beliau langsung menerapkan nilai-nilainya pada kehidupan sehari-hari maupun dalam perjuangan pergerakan perempuan. Dimulai dari kehidupan dalam keluarganya, saat menjadi Presiden, maupun saat menjabat sebagai ketua PBNU.

Pandangan Gus Dur terhadap Perempuan menyeruak ketika awal-awal menjadi Ketua Umum PBNU didatangi ulama dari Pakistan. Tamu tersebut meminta Gus Dur agar memerintahkan warga NU membaca surat al-Fatihah untuk keselamatan rakyat Pakistan.

Mengapa? Karena saat itu Pakistan tengah dipimpin seorang perempuan, Perdana Menteri Benazir Bhutto. Ulama tersebut merujuk kepada sebuah hadits Nabi bahwa akan celaka kaum yang dipimpin oleh perempuan.

Benazir Bhutto

Gus Dur alih-alih menolak atau menerima permintaan tamunya, beliau menjelaskan bahwa hadits tersebut disabdakan pada abad VIII Masehi di Jazirah Arab. Tentu dibutuhkan tafsir baru untuk menangkap maknanya.
Menurut Gus Dur, kepemimpinan yang sekarang tidak seperti masa lalu. Kepemimpinan di masa lalu bersifat perorangan, sedangkan kepemimpinan di masa sekarang bersifat kolektif, dilembagakan, baik berupa jabatan presiden maupun perdana menteri. Di mana dalam urusan kenegaraan, Benazir sebagai seorang perempuan tidak bekerja sendiri, akan tetapi bekerja secara tim, di mana dalam struktur kenegaraan terdapat eksekutif, legislatif, dan yudikatif.

Bersama-sama dengan kabinet yang mayoritas laki-laki, mereka memutuskan sesuatu sesuai dengan Undang-Undang. UU tersebut juga dibuat oleh parlemen yang mayoritas laki-laki. Sehingga untuk mengawal mereka, diangkatlah para Hakim Agung, yang anggotanya juga laki-laki. Oleh karena itu, kepemimpinan di tangan perempuan tidak masalah.

Kiprah Gus Dur dalam konteks Nahdhatul Ulama, kesetaraan gender bagi Gus Dur bukan hanya diterima sebagai wacana, melainkan juga diimplementasikan dalam bentuk program di lingkungan NU maupun organisasi perempuan NU seperti IPPNU, Fatayat, dan Muslimat. Di antara program tersebut adalah pengarusutaman gender (gender mainstreaming), penguatan kesehatan dan hak-hak reproduksi, reinterpretasi kitab kuning tentang posisi dan kedudukan perempuan, penguatan hak-hak seksualitas, dan lain-lain.

Di antara ulasan menarik tentang Gus Dur terungkap dalam tulisan Ala’i Nadjib tentang bagaimana beliau sejak dini membangun peran kemitraan dan kesetaraan dalam keluarga. Dimulai dari bagaimana beliau memposisikan pasangannya, Ibu Sinta, mereka membangun kesetaraan dan kemitraan di dalam keluarga sejak dini. Pola pengasuhan parenting yang beliau terapkan di mana ayah dan ibu merawat dan mengasuh anak secara bersama-sama di tengah-tengah doktrin pola pengasuhan anak dengan mothering (pengasuhan anak dipandang sebagai tanggung jawab ibu semata) sementara bapak adalah pekerja publik.

Pasangan Gus Dur dan Ibu Shinta Nuriyah, juga tak segan saling bekerja sama melakukan pekerjaan rumah tangga. Sejak masa kehamilan hingga kelahiran putri-putri mereka pada saat mereka masih mengajar dan tinggal pesantren, Gus Dur selalu menyempatkan untuk mengantar Ibu Shinta ketika memeriksakan kehamilannya. Beliau juga turut berperan aktif secara langsung untuk merawat Ibu Shinta pasca melahirkan, bahkan tidak segan merawat dan mengasuh bayi-bayi beliau, mulai mengganti hingga membersihkan popok. Kejadian ini. jauh sebelum pemerintah mendorong peran suami dan mencanangkan program ‘Suami Siaga’.

Jika ditelisik, pemikiran Gus Dur tentang kesetaraan telah tumbuh dari ayah dan ibu, KH Abdul Wahid Hasyim dan Ibu Nyai Hj Solichah juga kakek dan neneknya dari pihak ibu, KH Bisri Syansuri dan Nyai Hj Nur Chodijah. Kiai Bisri adalah perintis pesantren perempuan pertama di Jawa Timur. Sedangkan Kiai Wahid Hasyim merupakan pelopor sekolah hakim perempuan pertama. Beliau membolehkan perempuan menjadi hakim agama.

Begitu juga benih-benih kepedulian beliau terhadap emansipasi tertanam dari kakeknya, KH. Bisri Syamsuri dan istri yang mendirikan pesantren putri di Denanyar Jombang, diperuntukkan bagi kaum perempuan pada akhir tahun 1920-an. Meskipun awalnya mendapat tantangan keras dari tokoh tokoh NU, namun hingga kini pesantren tersebut tetap berdiri kokoh bahkan menjadi percontohan dari sebagian pesantren putri di tanah air.

Beliau memiliki tiga prinsip yang diterapkan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, yaitu keadilan (‘adalah), kesamaan (musawwah), dan demokrasi (syuro).

Menurut Gus Dur dalam pengertian hak asasi antara perempuan dan laki-laki, keduanya memiliki derajat dan status yang sama. Keduanya memiliki persamaan hak, kewajiban, dan kedudukan yang setara.

Gus Dur menafsirkan ayat dari surah An-Nisa’ ayat 34 “arrijalu qawwamuna ala an-nisa” bahwa laki-laki memang qawwam dengan arti lebih tegar serta lebih bertanggung jawab atas keselamatan wanita. Hal yang membedakan antara laki-laki dan perempuan hanyalah dari segi biologis. Sedangkan dalam segi psikologis, tidak ada perbedaan antara keduanya. Semuanya itu memiliki kekuatan yang sama secara psikologis.

Sebagaimana dalam isu kesehatan reproduksi dan Keluarga Berencana (KB), Gus Dur memaknai ulang sebuah hadist nabi yang menyatakan bahwa “Nabi akan bangga dengan umat yang banyak”. Selama ini hadist itu dimaknai secara kuantitas. Kemudian oleh Gus Dur dimaknai ulang secara kualitas alih-alih kuantitas.

Dalam pelaksanaanya, dikatakan perspektif perempuan di mata Gus Dur terinspirasi oleh dua tokoh besar dari luar negeri, Mahatma Gandhi dan Abdullah Ahmed al-Naim.

Mahatma Gandhi adalah seorang pemimpin spiritual dan politikus dari India. Gandhi adalah termasuk salah seorang yang terlibat dalam Gerakan Kemerdekaan India. Ia adalah aktivis yang menggunakan perlawanan tanpa kekerasan dan mengusung gerakan kemerdekaan melalui aksi demonstrasi damai tanpa ada pengekangan.

Mahatma Gandhi

Sedangkan Abdullah Ahmed al-Naim adalah seorang cendekiawan muslim kelahiran Sudan yang sampe sekarang menetap di Amerika Serikat. Ia dikenal sebagai pakar hukum Islam dan hak asasi manusia internasional. Diceritakan pada tahun 2000 saat Gus Dur berkunjung ke Negara Sudan, orang yang pertama kali beliau temui adalah Abdullah Ahmed Naim. Naim memberikan dua buku karyanya berbahasa Inggris, yang kemudian sedikit banyak konsepsi pemikirannya mengenai HAM dan kemanusiaan diberikan apresiatif oleh Gus Dur.

Abdullah Ahmed al-Naim

Pemikiran ketiga tokoh yaitu Gus Dur, Mahatma Gandhi, dan Abdullah Ahmed Naim adalah buah dari keberagaman pembaruan pemikiran Islam yang berasal dari sumber yang absolut yakni Al-Qur’an dan Hadits. Kemudian pada saat ini diterapkan oleh KH. Yahya Cholil Staquf murid dari Gus Dur, yang terlihat menggunakan pijakan pemikiran gurunya dengan wujud pembentukan susunan struktural di PBNU dengan melibatkan perempuan di dalamnya.

Singkat kata, Gus Dur tidak bicara kesetaraan dalam wacana, konsep atau definisi, namun beliau lebih memberikan bukti konkrit dalam segala aktivitas beliau, dalam cara bagaimana beliau berhubungan dengan keluarga dan mendudukkan posisi mereka, tanpa ada diskriminasi, subordinasi dan dominasi dengan yang lainnya. Lebih tepatnya Gus Dur telah menjadi Uswatun Hasanah bagi keluarga, negara dan dunia dalam mengimplementasikan nilai-nilai yang dimaksudkan oleh Tuhan sang maha esa.

*Tulisan bersumber dari hasil diskusi Komunitas Ngopi Ngalor Ngidul (3NG) pada Kamis, 7 April 2022 dengan pemantik Muhammad Najmuddin

Baca juga Komunitas Ngopi Ngalor Ngidol (3NG) dan Dialog Pribumisasi Islam antara Agama dan Budaya Nusantara

Tinggalkan Balasan