Pluralisme Menurut Gus Dur

0
44
views
Ngopi Ngalor Ngidul (3NG)
Salah satu komunitas diskusi di PCINU Sudan

Pluralisme berasal dari kata “plural” dan “isme”. Plural berarti beragam dan isme berarti paham. Perpaduan kedua term ini mengantarkan pada arti “paham atas keberagaman.” Dalam konteks peradaban barat, kata pluralisme bermula dari adat-istiadat gereja pada abad-abad pertengahan. Pluralisme sendiri merupakan suatu keadaan masyarakat yang terdiri dari keragaman; baik etnik, agama, dan kelompok budaya dalam suatu negara. Sebagai contoh di Indonesia yang merupakan representasi bangsa plural karena terdiri dari sekian banyak suku, agama, dan ras yang majemuk dan terjalin dalam sebuah landscape demokrasi yang berlandaskan Pancasila dan prinsip Bhineka Tunggal Ika.

Secara sederhana, pluralisme dapat diartikan sebagai paham yang mempunyai sikap toleran dengan adanya keragaman pemikiran, peradaban, agama, dan budaya. Seseorang dapat dikatakan pluralis apabila ia bersedia menghormati dan menghargai sesama manusia dalam kekhasan identitasnya. Sementara sikap pluralis merujuk pada kesadaran dan keterbukaan untuk mengakui bahwa cara hidup dan cara beragama memiliki perbedaan satu sama lain.

Sikap pluralis tidak menyangkal adanya sebuah fakta akan adanya kuantitas mayoritas dan minoritas. Justru sebaliknya, seorang pluralis sejati menerima kenyataan tersebut sebagai sesuatu yang wajar dan dipahami secara baik. Seperti aforisme khas ala Gus Dur dalam memandang keberagaman yang ada dengan ucapan “Gitu aja kok repot”.

Gus Dur adalah sosok Bapak Pluralisme sejati. Ide dan gagasan pergerakannya ditunjukkan dengan memperjuangkan kaum mayoritas dan minoritas dalam suatu bangsa. Salah satu ayat Al-Quran yang menjadi pegangan Gus Dur, yaitu surat Al-Hujurat ayat-13 yang bermakna “bahwa seluruh manusia itu dapat saling mengenal dan rukun walaupun berbeda dalam budaya, suku dan jenis kelaminnya”.

Suatu paham yang menghargai perbedaan, baik kebudayaan maupun agama yang di mana mereka mampu mengekspresikan sesuatu sesuai dengan identitas masing-masing. Buah hasil perjuangan Bapak Pluralisme selama ini kepada Indonesia di antaranya; pertama, agama Konghucu dikehendaki bisa menjadi agama yang diakui di Indonesia. Kedua, memperjuangkan Ahmadiyah. Ketiga, mengenai terorisme atau perang.

Pluralisme bukanlah ide yang ingin mendudukkan semua agama adalah sama, melainkan tidak seharusnya perbedaan menjadi sumber konflik antar sesama

Pluralisme bukanlah ide yang ingin mendudukkan semua agama adalah sama, sebagaimana yang selama ini sering diperdebatkan atau bahkan dikonotasikan ke arah negatif. Sebab, di setiap agama tentu memiliki perbedaan dan ajarannya masing-masing. Pluralisme yang dikehendaki Gus Dur adalah tidak seharusnya perbedaan menjadi sumber konflik antar sesama, melainkan seharusnya menjadi sarana dan akses bagi manusia untuk memahami anugerah Tuhan yang besar agar tercipta sikap toleransi dan harmoni di tengah kehidupan sehari-hari.

Gus Dur sering menganalogikan konsep pluralisme ibarat sebuah rumah besar yang terdiri atas banyak kamar dan setiap orang memiliki kamarnya masing-masing. Saat di dalam kamar, setiap orang dapat merawat dan menggunakan kamarnya serta berhak melakukan ekspresi apa pun di dalam kamar masing-masing. Namun, ketika berada di ruang tamu atau ruang keluarga, maka setiap penghuni kamar wajib melebur menjadi satu untuk komitmen menjaga kepentingan rumah bersama (negara/bangsa).
Pluralisme merupakan sebuah desain Tuhan agar manusia dapat saling mengenal dan saling belajar satu sama lain agar nantinya dapat saling melengkapi antar sesama. Dengan kata lain, siapa pun yang mengutuk pluralisme, maka sama saja ia telah mengutuk Tuhan sebagai Sang Pencipta keberagaman di bumi yang Tuhan ciptakan.

Menurut Gus Dur, bahwa perbedaan keyakinan secara teologis tidak akan menghalangi untuk bekerja sama antar Islam dengan pemeluk agama lainnya, terutama dengan menyangkut berbagai masalah kemanusiaan. Bagi Gus Dur, sikap saling mengerti merupakan hal yang mendasar bagi umat beragama sehingga dapat bersama-sama melakukan refleksi diri dan bersama-sama menegakkan moralitas, keadilan, dan perdamaian umat manusia.

Dua pandangan Gus Dur mengenai pluralisme:

Pertama, konsep pluralitas Gus Dur adalah mengakui dan menghormati keberagaman agama. Menurut Gus Dur, perlunya tiga nilai universal dalam pluralisme agama, yaitu keadilan, kebebasan, dan musyawarah untuk menghadirkan pluralitas sebagai kemaslahatan bangsa. Gus Dur menghargai keberagaman di mana pluralitas agama pada dasarnya merupakan sebuah realitas dalam kehidupan dunia. Kesadaran akan pluralitas agama dapat menciptakan toleransi, kerjasama, dialog, persamaan, solidaritas, dan tatanan politik yang demokratis.

Kedua, pluralitas agama Gus Dur dalam perspektif Islam adalah Islam tidak memandang pluralitas sebagai sebuah perpecahan yang membawa kepada bencana. Islam memandang pluralitas agama sebagai rahmat Allah yang diturunkan kepada makhluk-Nya. Dengan pluralitas agama, kehidupan menjadi dinamis karena terdapat kompetisi dari masing-masing elemen untuk melakukan hal-hal baik dalam kehidupan.

Hal ini membuat hidup menjadi tidak membosankan karena selalu ada pembaruan menuju kemajuan. Al-Qur’an mengakui secara tegas adanya pluralitas agama dalam berbagai aspek kehidupan dengan berbagai argumentasi ayat-ayat Al-Qur’an.

Dalam hal ini, Islam memberikan kebebasan untuk memilih dan meyakini serta beribadah menurut keyakinan masing-masing. Pemilihan keyakinan merupakan pilihan bebas yang bersifat personal. Dalam Islam telah tertuang ajaran-ajaran yang mendorong anak didik untuk bersikap kritis dan bijaksana dalam menghadapi keberagaman di masyarakat.

Tulisan bersumber dari pengembangan diskusi Ngopi Ngalor Ngidul (3NG) pada 22 Maret oleh Pemantik Yustira Nur Fadhilah

Baca juga Perempuan Dalam Kacamata Gus Dur

Tinggalkan Balasan