Resensi Kitab Dumu’ Al-Muslimin

0
64
views
Kitab Dumu al-Muslimin
Kitab Dumu al-Muslimin

Identitas Kitab

Nama Kitab : Dumu’ al-Muslimin fi Siroti Wafati Sayyidi al-Mursalin
Pengarang : Syekh Abd al-Baqi al-‘Ujaimi
Isi Kitab : ii + 70 halaman
Penerbit : Al-Umaroh al-‘Amah li al-Majlis al-Qoumi li al-Dzikri wa al-Dzakirin
Tahun Terbit : Khartoum 2008

Biografi Penulis

Syekh Abd al-Baqi al-‘Ujaimi lahir di Barshoh, Raifi Karimah, Sudan Syamaliyah. Beliau menghafal al-Quran kepada ayahnya yaitu Sayyid Muhammad Ali al-‘Ujaimi. Kepada ayahnya juga beliau belajar kaidah bahasa Arab dan ilmu agama. Beliau belajar agama Islam kepada ulama-ulama masyhur, seperti Syekh Husain al-Syinqithi. Di antara karya tulis beliau adalah Dumu’ al-Muslimin fi Siroti Wafati Sayyidi al-Mursalin, Al-Nafhah al-Arrobbaniyyah fi Isro’ wa Mi’roj Sayyid al-Bariyyah, dan Al-Isror al-Mauhubah fi al-Dzikri Aqiba al-Sholawat al-Maktubah, ketiganya berbentuk risalah, yaitu karya tulis kecil yang tidak sebesar kitab.

Pendahuluan Kitab

Syekh Abd al-Baqi al-‘Ujaimi merasa akan pentingnya sejarah nabi untuk mengetahui mana hadis yang shohih dan hadis yang dhoif agar tidak salah dalam memahami sejarah Rasulullah. Maka dari itu, isi kitab Dumu al-Muslimin ini adalah hadis-hadis yang shohih dan pendapat-pendapat ulama yang terpercaya. Kitab risalah ini adalah hasil penelitian beliau yang kemudian ditulis secara tertib dan ditambah dengan sedikit penjelasan.

Isi Kitab

Kitab Dumu al-Muslimin ini terdiri dari tujuh bab dan ditutup dengan kasidah yang dikarang oleh Syekh Abd al-Baqi al-‘Ujaimi.
Bab I menerangkan wafatnya Rasulullah yang dikabarkan melalui wahyu berupa isyarat surat al-Nasr ayat 1 yang berbunyi “Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan”. Kemudian isyarat tersebut disampaikan kepada para sahabat. Ketika turunnya wahyu tersebut dikabarkan para sahabat masih belum paham maksud isyarat tersebut hingga Sahabat Ibnu Abbas paham bahwa isyarat tersebut menunjukkan bahwa Rasulullah sudah semakin pendek umurnya.

Bab II menerangkan sakitnya Rasulullah. Rasulullah sakit dan tinggal di rumah Sayyidah Maimunah selama 13 hari. Para sahabat banyak yang menjenguk Rasulullah hingga membuat mereka menangis karena Rasulullah tidak pernah sakit separah ini sebelumnya, 13 hari sudah dianggap lama oleh para sahabat. Kemudian Rasulullah menasihati para sahabat agar tidak menangis bahwa orang yang menganggap buruknya ujian para nabi adalah paling buruknya manusia karena dia telah mencela nabi. Satu riwayat mengatakan bahwa sakitnya Rasulullah yang paling ringan adalah sakitnya umat yang paling berat.

Bab III menerangkan wafatnya Rasulullah. Diterangkan bahwa ketika nyawa Rasulullah dicabut malaikat maut pun ikut menangis. Rasulullah wafat di pangkuan Sayyidah Aisyah. Saat itu, Aisyah merasa sedih dan senang. Sedih karena wafatnya Rasulullah dan senang karena beliau wafat di pangkuannya.

Kemudian para sahabat datang ke rumah Rasulullah, di antaranya Sayyidina Umar, Mughiroh, dan Syu’bah. Mughiroh berkata kepada Umar, “Ya Umar, Rasulullah sudah meninggal”. Sayyidina Umar pun tak percaya dan berkata “Kamu berbohong, Rasulullah tidak akan wafat sampai Allah melenyapkan orang munafik dan sekarang masih banyak orang munafik”. Dalam riwayat lain mengatakan bahwa Sayyidina Umar mengeluarkan pedang untuk mengancam mereka yang mengatakan Rasulullah sudah wafat.

Kemudian Sayyidina Abu Bakar masuk dan mengabarkan wafatnya Rasulullah kepada Sayyidina Umar. Sayyidina Abu Bakar meyakinkan para sahabat dengan membaca surat al-Zumar ayat 30 yang berbunyi “Sesungguhnya engkau (Muhammad) akan mati dan mereka akan mati (pula)” dan surat al-Anbiya’ ayat 34 yang berbunyi “Dan Kami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia sebelum engkau (Muhammad); maka jika engkau wafat, apakah mereka akan kekal?”. Ketika wafatnya Rasulullah maka menjadi terlihat siapa orang-orang munafik, mana yang benar-benar beriman dan mana yang pura-pura beriman.

Bab IV menerangkan proses Rasulullah dimandikan hingga disalati. Di hari wafatnya Rasulullah, Nabi Khidir datang dan banyak yang tidak mengetahui siapa yang datang itu. Orang yang mengambilkan air untuk memandikan Rasulullah adalah Said bin Khoitsamah. Kemudian Sayyidina Abbas menyuruh menutup pintu agar orang-orang tidak melihat proses pemandian Rosulullah. Orang yang menyiramkan air adalah Aus bin Khauli.

Setelah proses pemandian selesai, Sayyidina Ali mencuci pakaian Rasulullah dan meminum air bekas mandinya Rasulullah, beliau berkata “Demi ayah dan ibuku, engkau (Rasulullah) masa hidup dan wafatmu tetaplah wangi”. Wanginya Rasulullah juga disaksikan oleh Sayyidina Abbas. Setelah itu Rasulullah dikafani dengan tiga helai kain. Kemudian jasad Rasulullah diletakkan di tengah ruangan dan para sahabat datang bertakziyah dan melihat Rasulullah sebelum disalati dan dikubur. Dimulai dari orang-orang Muhajirin dilanjutkan orang-orang Anshor kemudian diakhiri kaum wanita dan anak-anak.
Rasulullah disolati sebanyak 72 kali salatan.

Proses seperti ini telah kita temukan di Indonesia yang meletakkan jasad orang meninggal yang telah dikafani di tengah ruangan kemudian orang-orang yang bertakziyah mengelilinginya sambil membaca Yasin dan tahlil. Jika orang yang meninggal adalah seorang tokoh masyarakat, ulama, kiai, atau orang yang terpandang biasanya banyak yang menyalati berkali-kali secara bergantian karena banyaknya orang yang ingin menyalatinya.


Bab V menerangkan proses dikuburnya Rasulullah. Waktu Rasulullah dikubur cincin Sayyidina Ali terjatuh ke dalam namun ia tak mau mengambilnya lagi. Ada yang mengatakan bahwa Sayyidina Ali sengaja menjatuhkannya. Di Indonesia kita sering melihat orang-orang yang sengaja melempar segenggam tanah ke dalam kuburan.
Orang yang menggali kuburnya adalah Abu Tholhah Zaid bin Jarh. Sedangkan orang yang menyiraminya adalah Sahabat Bilal. Kemudian orang yang terakhir di kuburan adalah Qutsam bin Abbas, riwayat lain mengatakan Mughiroh bin Syu’bah. Setelah Rasulullah dikuburkan, Sayyidah Fatimah datang dan mengambil tanah kuburan kemudian mengusapkan matanya sambil menyenandungkan kasidah tentang kesedihannya ditinggal Rasulullah.

Bab VI menerangkan hari kesedian umat Muslim tanpa Rasulullah. Ketika Rasulullah telah wafat, keadaan terasa berubah. Banyak sahabat yang masih terlarut dalam kesedihan. Sayyidina Umar, Usman, Ali, Abdullah bin Anas, dan Abdullah bin Zaid berusaha menyemangati umat Muslim agar tidak sedih berlarut-larut. Di hari kesedihan itu ada beberapa sahabat yang menyenandungkan syair dan mengungkapkan kesedihan-kesedihannya.
Setelah Rasulullah wafat, Bilal tidak mau adzan lagi bahkan ia pergi ke Syam untuk waktu yang lama hingga ia bermimpi bertemu Rasulullah yang berkata kepadanya, “Wahai Bilal, engkau sudah lama tinggal di Syam, kapan engkau datang menziarahiku?” Kemudian Bilal pulang ke Madinah dan bertemu masyarakat namun tidak ia hiraukan dan memilih langsung menuju makam Rasulullah dan menangis di sana. Pada akhirnya Bilal menetap di Madinah hingga ia meninggal. Suatu ketika Bilal diminta adzan oleh Sayyidina Umar namun ia tetap menolaknya. Bilal baru bersedia adzan ketika Sayyidina Umar menjadi khalifah. Ketika Bilal adzan para sahabat yang mendengarnya pun turut menangis karena teringat jaman Rasulullah hidup.

Bab VII adalah bagian penutup yang menerangkan keutamaan Rasulullah dan keutamaan sholawat. Rasulullah diangkat menjadi Rasul pada umur 40 tahun, tinggal di Makkah 13 tahun, dan di Madinah 10 tahun. Beliau wafat pada umur 63 tahun menurut qoul shohih. Satu riwayat mengatakan bahwa Rasulullah dilahirkan di hari Senin, diangkat menjadi Rasul di hari Senin, hijrah ke Madinah di hari Senin, dan meninggal di hari Senin juga. Sholawat kepada Rasulullah diawali oleh Allah Swt. yang kemudian dijadikan dasar diperintahkannya sholawat kepada Rasulullah.
Kitab risalah ini ditutup dengan kasidah yang berisi tentang keutamaan Rasulullah, pujian-pujian terhadapnya, dan kerinduan penulis kepada Rasulullah.

Penulis: M. Ahmad Faridi, S. Ag. (Naib Rais Syuriyah PCINU Sudan)

Baca juga Peta Keilmuan Ulama Sudan

Tinggalkan Balasan