Tahan Lapar Tahan Rindu di Negeri Sudan

0
137
views

Tahan Lapar Tahan Rindu di Negeri Sudan – Udah masuk tahun ketiga lagi-lagi beda Benua. Terpisah ribuan mil dengan ayank yang biasanya nyiapin sahur dan masak gorengan menjelang berbuka. Kini apa-apa harus sendiri. Yaa walaupun masih bisa via video call sih, tapi tetap aja gak sama. Momen diteriakin Emak buat bangun sahur. Motoran bareng Ayah ke Masjid. Juga momen spesial lainnya bareng Emak Bapak selama bulan Ramadan. Yaa aku lagi di perantauan. Sudan negerinya, Khartoum Ibu Kotanya.

Teringat sebuah pepatah menyatakan, “Merantaulah! Maka kau akan mendapatkan pengganti dari apa yang kau tinggalkan”. Orang tua, keluarga, kerabat, teman, dan semua yang kita tinggalkan selalu ada penggantinya. Seperti halnya di Sudan ini. Selalu saja ada mereka yang berperan menciptakan suasana harmonis layaknya di rumah. Kalau kata orang-orang sih Cosplay. Kadang ada yang jadi Emak, Bapak, teman yang selalu ada, walaupun adanya pas lagi senang doang, hahaha. Tapi tetap asyik dan aku bersyukur banget. Apalagi di sini lingkungan penuntut ilmu jadi makin semangat melakukan hal-hal baik. Sahur, buka puasa, taraweh semuanya dilakukan bersama. Jadi lebih ringan aja gitu kalau bareng-bareng.

Pertama Ramadan di sini aku kira biasa-biasa saja. palingan cuma jauh dari orang tua, lainnya kurang lebih seperti di Indonesia. Nyatanya gak semudah itu. Banyak hal unik yang  membuat setiap orang gak bisa lupain Ramadan di Sudan. Mulai dari cuaca, mati listrik, minim air, sampai begal Ramadan. Awalnya cuma dengar dari senior disini. Bilangnya Ramadan itu puncak panas dari bulan lainnya. “Lebay banget sih” kata aku dalam hati.

Marhaban Yaa Ramadan. Datang juga bulan yang dinantikan. Mulai kerasa panasnya hari pertama Ramadan. Percaya gak percaya, sehari sebelum Ramadan tuh panasnya biasa aja. Pas satu Ramadan beda banget panasnya kayak udah disetting gitu dari sananya. Sempat kepikiran mau telpon Mbak Rara biar nurunin suhu langit Sudan, tapi gak jadi takutnya dia gak punya remote langit Sudan. Malah sempat kita ngerasain 45 derajat di sini. Belom lagi mati listrik yang udah ada jadwal tiap harinya. Bisa kali 6-8 jam sehari. Ya akhirnya jalanin aja fenomena unik ini.

Mahasiswa di sini menyikapinya juga dengan unik. Contoh basahin kasur di siang hari. Bolak balik kamar mandi hanya untuk basahin badan dan baju, toh sepuluh menit kemudian kering lagi, basahin lagi deh. Kadang juga disini minim air, maka jangan heran tiap rumah punya minimal dua drum besar buat stok air kalau listrik sedang nyala.

Terlepas dari segala kekurangan berpuasa di Sudan, kita harus senantiasa bersyukur dan sabar. Kalimat yang paling masyhur “man ‘aasya fis sudan ‘aasya fii kulli makan”, barang siapa yang bisa hidup di Sudan bisa hidup di mana saja.

Selain hal yang udah disebut tadi, ada hal yang terbilang paling unik di Sudan ketika Ramadan. Tak lain tak bukan, yaitu ‘Begal Ramadan’. Beda halnya dengan begal yang kita kenal. Justru begal Ramadan ini sesuatu yang sangat positif. Di mana orang Sudan membegal siapa saja menjelang berbuka. Pejalan kaki, pengendara sepeda motor, mobil, bahkan sampai Bus saja dihentikan, untuk duduk dan buka puasa bersama. Tak jarang mahasiswa Indonesia sering berburu takjil gratis. Karena begal Ramadan ini ada di mana saja. Tiap hari kita bisa berbuka di tempat yang berbeda.

Asidah, makanan khas Sudan

Bicara tentang takjil, ada makanan khas Sudan yang pastinya ada di setiap tempat begal Ramadan. Sebut saja Asidah, terbuat dari kacang kacangan dan tepung sagu. Soal rasa pernah salah seorang senior bilang rasanya seperti ‘kaos kaki busuk’ karena mungkin Asidah ini gak cocok di lidah orang Indonesia. Yang pasti, mahasiswa Indonesia suka menghindari makanan satu ini. Kalau di Indonesia kita bisa berbuka dengan es buah, es kelapa, sirup marjan yang kita tidak dapati di sini. Sebagai gantinya kita disuguhi minuman yang beraneka ragam juga. Es karkade atau bunga rosella, Arbeh, fermentasi tepung gandum, tepung jagung dan ragi, juga ada es Ardeb atau asam jawa. Yang pasti semua itu halalan thoyyiban.

Selain masyarakat Sudan yang membegal ada juga mahasiswa Indonesia yang berkecimpung dalam kegiatan positif ini. Biasanya mereka bergerak secara keorganisasian. Baik itu organisasi kekeluargaan daerah maupun yang berbasis agama. Semua berlomba-lomba dalam mengejar keberkahan bulan Ramadan.

Baca juga: Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Ilmu Hadits

Mayoritas Masjid di Sudan melaksanakan tarawih dengan jumlah 8 rakaat dengan bacaan 1 juz setiap malamnya. Walaupun dirasa berat karena biasanya 1 juz dibagi 20 rakaat, tapi tarawih tetap terlaksana dengan syahdu. Salah satunya karena lagham khas Sudan yang menambah kekhusyukan. Jika sudah tiba 10 malam terakhir, setiap Masjid di Sudan terbuka untuk umum. Bukan hanya untuk i’tikaf dan qiyamul lail saja, bahkan mereka menyediakan makanan untuk sahur. Contohnya di Majma’ an-Nur, Masjid yang memiliki arsitektur ala Turki. Di sana disediakan sahur berupa ruz bi laban atau nasi susu.

Serba-serbi Ramadan di Sudan ini telah kujalani 3 kali. Ya pastinya berujung lebaran di negeri orang. Meski begitu, aku usahakan untuk selalu menelepon orang tua, abang, juga saudari yang di Indonesia. Sekedar bertanya kabar, sahur pakai apa, buka dengan siapa eh maksudnya buka dengan apa. Kadang obrolan yang singkat dan receh itu justru melepas rindu. Bukan hanya rindu Emak Bapak, tapi aku juga rindu tanah kelahiranku, tapi kerinduan ini akan ku balas dengan kesuksesanku nanti. Tanah kelahiran, tunggu kelak aku mengabdi padamu.

Oleh: Tengku Rizqi (Mahasiswa Khartoum International Institute of Arabic Language)

Tinggalkan Balasan