Apa Landasan Dalam Berpikir?

0
57
views
Sumber gambar: grid.id

Bermimpi ataupun berkhayal merupakan hal yang menyenangkan, dimana semua orang bebas untuk mengatur alur dari pemikiran yang bersumber dari otaknya. Karena berkhayal adalah hal yang imajiner dan tidak akan berdampak atau mengganggu ketenteraman orang di sekitarnya selama khayalan itu tidak diimplementasikan dalam dunia nyata. Inilah sebuah anugerah yang Tuhan berikan berupa otak yang digunakan untuk berpikir. Namun, berpikir saja ternyata tidak cukup. Karena jika hanya bertumpu pada otak saja dalam berpikir maka buntutnya adalah kebebasan yang tidak terbatas.

Dunia ini mengalami perubahan yang signifikan, di mana sekarang kita bisa menikmati segala macam sarana dan prasarana, teknologi dan komunikasi yang mungkin tidak pernah terlintas di dalam benak kita sebelumnya. Tapi realitanya sekarang semua itu nyata adanya. Dan kita tidak pernah tahu terobosan-terobosan apa lagi di masa yang akan datang, mungkin akan ada inovasi baru lagi yang lebih out of the box. Dan semua itu tentunya tak lepas dari peran sebuah pemikiran.

sebebas-bebasnya orang berpikir, otaknya tidak akan sampai pada zat yang Maha Pencipta

Kebebasan orang dalam berpikir tidak bisa dijadikan pijakan dalam mengarungi arus kehidupan. Karena nantinya akan ada ketidakpuasan seseorang ketika belum bisa menemukan buah dari pemikirannya. Dan inilah hal yang perlu kita sadari bersama, sebebas-bebasnya orang berpikir, otaknya tidak akan sampai pada zat yang Maha Pencipta, karena pikirannya terbatas. Ketika seseorang memaksakan kehendak pemikirannya pada hal yang sudah tidak mampu dilampaui akal, maka ia akan jatuh dalam ranah kebebasan yang disetir oleh nafsu.

Pentingnya memahami guidelines cara kerja otak serta hakikat dari Sang Pencipta merupakan gerbang menuju pemahaman tentang hakikat berpikir agar tidak terjerumus dalam lembah kegelapan. Betapa banyak orang terbutakan dengan pemikirannya, karena ia merasa bahwa hanya melalui pemikiranlah ia mampu mencapai derajat yang tinggi di mata manusia. Tentu, inilah gerbang menuju kerancuan dalam berpikir, di mana produk dari pemikirannya nantinya akan mengantarkan dia dalam fatamorgana. Semakin ia mencari titik temu yang diinginkannya, semakin tersesat ia dalam pemikirannya.

Walaupun kedudukan berpikir dalam al-Qur’an sangat dimuliakan, namun kita tidak bisa semena-mena dalam pengimplementasiannya. Diperlukan bimbingan wahyu agar seseorang tidak salah melangkah dalam mengambil keputusan sebagai natijah dari pemikirannya. Wahyu ibarat rambu-rambu yang akan menyelamatkan dia dari kecelakaan. Jikalau seseorang dalam berkendara tidak ada rambu-rambu lalu lintas, maka bisa dibayangkan, betapa banyak chaos yang terjadi setiap detiknya di jalan raya. Begitu pun dalam beragama, selain kita memikirkan alam semesta, jika tidak bermuara kepada Sang Pencipta maka hanya akan menyesatkan diri kita.

Hal seperti ini sebenarnya bukan hanya berlaku pada ranah agama saja, bahkan orang yang mengaku dirinya ateis atau orang yang tidak percaya keberadaan agama, sekalipun dia berpikir tentang suatu hal, ia akan menyadari bahwa di balik terciptanya sesuatu ada yang Sang Pencipta. Dan jika dia mau mengakuinya, maka ia akan sampai pada suatu zat yang tidak bisa dinalar dengan akal. Karena Zat itu jauh melampau penalaran manusia yang akalnya terbatas. Ia hanya bisa ditempuh lewat jalur iman yang bersumber dari hati. Maka, sebagai seseorang yang diberi kejernihan akal dalam berpikir, senantiasalah bersyukur atas anugerah yang tidak semua orang mampu menghidupkan akal dengan bimbingan wahyu ilahi.

Falah Aziz

(Mahasiswa S1 Bahasa Arab di International Unversity of Africa)

Baca juga Humor sebagai Penghilang Stres

Tinggalkan Balasan