Menengok Kembali Kiprah dan Cerita Lazisnu Sudan di Bulan Ramadlan lalu

0
41
views

Selain berpuasa wajib, bulan Ramadlan memiliki keistimewaan sendiri ketika diisi dengan berbagai kebaikan. Bahkan diamnya seseorang yang berpuasa terhitung ibadah. Berbuat amal saleh selain untuk diri sendiri, tentu dapat memotivasi orang lain agar melakukan melakukan hal yang sama selama ikhlas mengharap ridla Allah subhanahu wa ta’ala.

Baca juga NU Care-LAZISNU Sudan; Menyingsingkan Lengan Membantu Sesama

Tuntunan berbuat kebaikan, lebih-lebih pada bulan Ramadlan telah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ajarkan kepada umatnya. Dalam salah satu riwayat hadits menjelaskan bahwa Rasulullah adalah orang yang paling pemurah/dermawan di antara manusia. Beliau lebih pemurah lagi saat bulan Ramadlan tiba.

Dalam satu riwayat disebutkan, Ibnu Rajab rahimahullah berkata, Abu Bakr bin Abi Maryam mengatakan bahwa banyak guru-gurunya yang berkata, “Apabila telah tiba bulan Ramadlan, maka perbanyaklah berinfak. Karena infak di bulan Ramadlan dilipatgandakan bagaikan infak di jalan Allah dan tasbih di bulan Ramadlan lebih utama daripada tasbih di bulan yang lain.”

Ramadlan di Sudan memiliki tantangan yang istimewa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Ramadlan di Negeri Dua Nil tahun ini bertepatan dengan musim kemarau dengan suhu lebih dari 40° celcius. Mahasiswa Indonesia di Sudan tidak lantas berdiam diri menghindari teriknya mentari hingga waktu berbuka menghampiri. Banyak dari mereka yang memaksimalkan Ramadlan ini dengan berbagai kegiatan dan menganggap puasa di Sudan sebagai ladang pahala yang melimpah ruah karena disertai kesabaran ganda dalam menjalaninya.

Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Sudan pun sudah mempersiapkan kegiatan Ramadlan jauh-jauh hari guna mewarnai bulan suci. Seperti kegiatan rutin ngaji sistem bandongan khas pesantren NU dengan mengaji kitab Jawharah at Tawhid dan al Arba’in an Nawawi.

NU Care-LAZISNU Sudan yang merupakan lembaga kemasyarakatan di bawah naungan PCINU Sudan mengisi kegiatannya pada bulan Ramadlan lalu dengan berbagai kegiatan sosial dan amal kebaikan, seperti sedekah dan infak dengan mengharap ridla dan pahala dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini juga memotivasi sesama untuk meningkatkan kualitas iman di bulan penuh berkah.

Sedekah dan infak merupakan amalan yang sangat dianjurkan di bulan Ramadlan terutama memberikan makanan saat berbuka puasa. Sebagaimana yang Rasulullah ajarkan untuk memotivasi kita, “Barang siapa memberikan makanan berbuka puasa bagi orang yang berpuasa, maka dia mendapat pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun.”

Tercatat ada beberapa kegiatan NU Care-LAZISNU Sudan dan penyaluran bantuan dana dari muhsinin dengan total nominal $ 20, Rp. 4.756.000, serta 59.510 Sudanese Pound pada bulan Ramadlan kemarin. Kegiatan tersebut seperti 0program Ramadlan yang menyasar ke beberapa lokasi Khalwah atau pesantren tahfidz di Sudan. Lazisnu Sudan menyalurkan bahan pangan pokok kepada masyarakat Sudan yang tertuju kepada Santri-santri penghafal al Qur’an di Khalwah Salamah yang diasuh oleh Syekh Imaddudin bin Abdurrohman Al Ubaidah, Kholwah Omduaban asuhan Syekh Tayyib, dan Khalwah Kala’la asuhan Syekh ar Rukainiy.

NU Care-LAZISNU Sudan dalam program ini mendapat apresiasi dari beberapa Masyarakat Sudan atas kiprahnya. Beberapa hari sebelum Ramadlan, Lazisnu juga telah berkiprah nyata kepada Masyarakat Sudan dengan menjalankan program Care On The Road (COR) yang merupakan salah satu program NU Care yang bertujuan untuk peduli terhadap sesama manusia, membantu warga Sudan yang kurang mampu. Kata salah satu Khadim Khalwah kepada Lazisnu, “Kami berterima kasih banyak kepada Lazisnu dari PCINU Sudan yang telah memberikan nikmat berupa bahan pokok kami di tempat Khalwah ini. Ini adalah kebaikan yang haqiqi.”

Dana yang terkumpul untuk kegiatan sosial tersebut diambil dari penghimpunan dan pengelolaan dana zakat, infak, dan sedekah yang telah dijalankan NU Care-LAZISNU Sudan. Program tersebut bernama “Gerakan 200 Paket Buka Puasa untuk Masyarakat Sudan” di mana NU Care-LAZISNU Sudan mengajak masyarakat untuk berdonasi serta menyebarkan kebaikan kepada Masyarakat Sudan di bulan penuh berkah.

Selain kegiatan sosial yang menyasar Masyarakat Sudan, NU Care-LAZISNU Sudan pada bulan Ramadlan juga menjalankan kegiatan sosial bersama diaspora Indonesia di Sudan. Seperti Sosialisasi Zakat, Infak, Sedekah (ZIS) bersama Pekerja Migran Indonesia di Sudan dan buka bersama dengan Warga Nahdliyin di Wisma PCINU Sudan.

Ketua Paguyuban Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Bapak Sumitro pun memberikan apresiasi atas kiprah NU Care-LAZISNU yang turun menjalankan program lapangan yang mana harus membutuhkan tenaga maksimal dan kemampuan menahan semua permasalahan di Sudan. Beliau memberikan pesan kepada Pengurus Lazisnu, “Kalian mahasiswa di sini juga harus berorganisasi. Biar kalau pulang ke indonesia gak kaget dengan sikon di Indonesia. Terima kasih. Lazisnu Mantap!”

Hubungan yang erat antara NU Care-LAZISNU dan Diaspora Indonesia di Sudan menurut Ketua NU Care-LAZISNU Sudan, Ahmad Muqovva, adalah sebuah komitmen NU Care-LAZISNU sebagaimana cita-cita awal berdirinya yang mempunyai tujuan untuk senantiasa berkhidmat demi membantu kesejahteraan umat, baik Warga Sudan atau Indonesia, serta menjadi bukti bahwa Lazisnu telah diterima di Sudan sebagai lembaga yang mengangkat harkat sosial melalui pendayagunaan dana Zakat, Infak, Sedekah (ZIS), dan dana-dana Corporate Social Responsibility (CSR).

Kiprah NU Care-LAZISNU Sudan tidak berhenti sampai di situ, tetapi para pengurus juga mendapatkan amanah untuk menyalurkan Zakat Fitrah di Sudan sebagai program operasional dana ZIS (Zakat, Infak, dan Sedekah). Pengurus berhasil menyalurkan dana ZIS dari 259 orang muzakki dengan total keseluruhan SDG 511.600, Rp. 16.731.000, $ 200, dan 10 kg beras kepada para mustahiq (orang yang berhak menerima zakat) di Sudan. Meski keringat lelah menetes, air mata menitik, tidak lantas mengurangi semangat pengurus Lazisnu dalam berkhidmah kepada umat.

Ada cerita menarik dari salah satu mustahiq saat pengurus menyalurkan zakat kepadanya. Pengurus bertemu dengan bocah bernama Indri, ia adalah anak yatim berusia 7 tahun yang sejak masih dalam kandungan, ayahnya telah meninggalkannya. Gadis kecil itu hanya hidup bersama ibunya sebagai satu-satunya penopang hidupnya.

Indri sampai saat ini belum mengenyam bangku sekolah lantaran faktor ekonomi dan belum memiliki berkas-berkas dokumen seperti passport dan akta kelahiran karena faktor sulitnya kepengurusan dokumen di Sudan. Dengan menitikkan air mata, Ibunda Indri mengharapkan uluran tangan dari berbagai pihak terutama KBRI dalam hal kepengurusan berkas-berkas dokumen karena sifatnya yang sangat penting lebih-lebih masalah pendidikan Indri.

Apabila Anda ingin menjadi bagian dari donatur dalam bentuk apapun di NU Care-LAZISNU Sudan, dapat menghubungi nomor Hotline di sini. Kami siap melayani.

Penulis: Muhammad Najmuddin

Baca juga NU Care-LAZISNU Sudan Bantu WNI yang Menderita Breast Cancer

Tinggalkan Balasan