PCINU SUDAN

Idealisme Pengabdian; “Diakali” Hanyalah Terminologi Bukanlah Tipologi

Nahdlatul Ulama menjadi salah satu organisasi pengabdian/perkhidmahan dalam aspek agama dan sosial terbesar di dunia. Khidmah menjadi kata kunci berdirinya Nahdlatul Ulama sejak awal berdirinya sampai hari ini, kita dapat menikmati ledakan berkah manfaatnya bersama.

Baca juga Pengesahan SK Panitia Seminar Internasional Lakpesdam 2022

Nahdlatul Ulama didirikan juga untuk wadah berkhidmah kepada agama dan bangsa. Khidmah kepada agama bertujuan untuk melestarikan, mengamalkan, dan mengembangkan paham Islam Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Khidmah kepada bangsa berarti dengan NU kita akan terus berjuang menjaga dan merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan memperjuangkan perdamaian dunia. Sebagaimana visi besar dari Pengurus Basar Nahdlatul Ulama (PBNU) tahun ini; “Merawat Jagad dan Membangun Peradaban”.

Hal itu semua tidak akan berhasil tanpa militansi dan soliditas gerak aktif kader Nahdlatul Ulama yang saat ini mendapat kesempatan khidmah pada distruktural pengurus. Dalam peta khidmah internal organisasi, gerak aktif kader dalam pengabdian dirinya terbukti dengan totalitas dan loyalitas kader melaksanakan agenda-agenda yang sudah disusun sejak awal kepengurusan. Para kader tentu melakukan tugas masing-masing sesuai dengan amanah tanggung jawabnya. Dengan pola pembagian tugas di setiap anggota, maka itulah bagian dari skema permainan yang sistematik yang disusun dalam bingkai struktur kepengurusan.

Dalam dimensi struktural tentu dinamika pasti ada, satu hal yang ingin saya angkat pada kesempatan ini adalah; pemanfaatan kader untuk melaksanakan tugas yang justru terkesan memforsir lebih kinerja kader yang bersangkutan (dalam bahasa jawa; Diakali). Padahal khidmah adalah ketulusan dalam melaksanakan tugas dan sistem kerja sama tim telah menjadi corak khas dalam tubuh Nahdlatul Ulama.

Maka dari itu, saya menggunakan istilah “Diakali” apakah menjadi sebuah tipologi atau hanya sebatas terminologi?

Ungkapan di atas merupakan sebuah ungkapan sederhana yang bagi saya menggelitik. Apakah cocok seorang pengabdi menjalankan tugasnya secara overproductive dapat disebut sebagai orang yang sedang diakali ataukah bukan?

Lantas, jika “Diakali” merupakan sebuah tipologi, apakah sama dengan apa yang disebut dengan totalitas dalam berkhidmah?

Dinamika seperti ini seringkali terjadi pada individu yang mencurahkan seluruh pikiran, kekuatan, dan seluruh langkah-langkahnya murni hanya untuk pengabdian dirinya kepada organisasi. Terlebih, organisasi seperti NU yang tentu memiliki tipologi berbeda dengan organisasi yang lainnya. Prinsip dasar dalam berkhidmah sebagai seorang khadim ideal ialah keikhlasan jiwa dan kemurnian hati yang menjelma sebagai prinsip moral, sehingga akan berdampak pada sebuah rasa kenikmatan dalam melaksanakan khidmah.

Hal ini senada dengan ungkapan yang diutarakan oleh Syaikh Dzun Al-Nun Al-Mishri dalam Risalah Al-Qusyairiyah yang mendeskripsikan ciri-ciri keikhlasan jiwa dan kemurnian hati:

ثلاث من علامات الإخلاص : استواء المدح والذم من العامة, ونسيان رؤية الأعمال فى الأعمال، ونسيان اقتضاء ثواب العمل فى الآخرة.

Artinya: “Terdapat tiga tanda ikhlas yakni; seimbang antara pujian dan cacian, menyembunyikan untuk mempertontonkan perbuatan baiknya, dan menghilangkan harapan terhadap timbal balik di akhirat kelak.”

Sejatinya, khadim sejati berorientasi terhadap prinsip-prinsip visioner yang dipegang bukan dengan mendahulukan kalimat-kalimat hampa tanpa ada manfaatnya, namun justru malah merugikan dirinya sendiri dengan menjadikan dirinya seperti tontonan bukan tuntunan. Artinya, seorang yang sudah berada pada tingkat khidmah secara ideal akan merasakan perkembangan dalam potensi kualitas secara signifikan, bermula dari bekal wawasan intelektual dan moral dalam menjalankan roda pengabdian. Kesimpulan saya adalah istilah “Diakali” hanyalah sebatas terminologi semata ternyata, tidak sampai pada tipologi substansial.

Lelahku kuniatkan untuk Lillah

A’azliansyah Farizil Anam (Aktivis Lakpesdam 2021-2022 PCINU Sudan)

Baca juga Dari Sebuah Kerinduan, Nahdliyin Sudan Luncurkan Gerakan Jemput Kiai

Tinggalkan Balasan

Artikel Terbaru

Instagram Post

Rundown Acara Konfercab ke-21 PCINU Sudan Ayo ikuti keseruan rangkaian acara Konfercab ke-21 PCINU Sudan dengan tema “Satu Abad NU; Meneguhkan Peran Khidmah dan Aktualisasi Visi Multirateral An-Nahliyyah” , mulai tanggal 27 September 2022 - 22 Oktober 2022 _________________________________________ Ikuti terus Akun media sosial PCINU Sudan agar kalian tidak ketinggalan acara-acara dan info menarik terkait PCINU Sudan Instagram : pcinusudan Facebook : Nu Sudan YouTube : PCINU Sudan Website : www.pcinusudan.com _________________________________________ #PCINUSudan #KONFERCAB21NUSudan #GointernasionalNU #KoinKONFERCAB #MuslimatNUSudan #NahdlatulUlama
%d blogger menyukai ini: