PCINU SUDAN

Insan Beriman Senantiasa Membangun Peradaban

Memaknai peradaban dari berbagai ragam perspektif adalah sebuah khazanah kekayaan para intelektual yang ada dalam dimensi manusia sebagai makhluk beragama dan berlatar belakang sosial. Satu sosok yang akan saya angkat, pertama adalah Ibnu Khaldun. Seorang pemikir muslim, sejarawan dan filsuf sosial. Ia adalah pelopor dalam penelitian peradaban, sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang pada masanya. Ia menjelaskan dengan jelas, bahwa peradaban merupakan sebuah corak kehidupan menetap yang berbeda dengan kehidupan kaum pedalaman (nomaden/ berpindah-pindah).

Baca juga Mengenal Bangsa Arab Pra-Islam dan Alasan Disebut Zaman Jahiliyyah

Dari corak kehidupan ini terbentuklah kultur masyarakat pedesaan dan perkotaan. Bertambah lama, terbentuklah model-model cara hidup, meniti pekerjaan, ilmu pengetahuan, industri, administrasi dalam aspek bidang-bidang kehidupan, dan tentu sistem pemerintahan. Ibnu Khaldun juga memaknai peradaban sebagai puncak pembangunan. Saya rasa pengertian terakhir menjadi dua kata singkat yang bisa dikatakan sebagai definisi peradaban yang paling singkat dan jelas. Sedangkan menurut Arnold Toynbee, sejarawan berkebangsaan Inggris menyatakan bahwa peradaban adalah unit inti dan logis dalam studi sejarah.

Disini, saya tidak sedang bermaksud menyebutkan definisi-definisi menurut para ahli dari berbagai aliran pemikiran dan kewarga-negaraan, tanpa menyikapinya. Saya hanya hendak menyampaikan berbagai macam definisi dari para ahli sebagai bahan konstruksi dalam membangun peradaban, khususnya kita sebagai muslim yang beriman.

Dengan begitu kita dapat menemukan perbedaan antara peradaban Islam dan yang lainnya. Karena manusia Islam yang membangun peradaban dan mengelolanya, bersatu-padu dengan Islam. Dia berasal dari Islam, dan berusaha menegakkan Islam dalam kehidupannya. Setiap manusia Muslim memiliki kebebasan dalam berbuat, tapi semua perbuatannya mengacu pada dasar-dasar Islam dan persepsi peradabannya yang berorientasi pada ketuhanan (rabani).

Berdasarkan hal tersebut, maka seorang muslim tidak dapat membatasi istilah peradaban dengan hanya menunjukkan capaian-capaian manusia dalam bidang materi dan industri yang merupakan hasil riil dari keahlian dan penelitian, bahkan dari hasil kejeniusan. Karena manusia Islam berbeda dengan manusia yang beragama lain. Dia mempunyai pandangan yang khusus terhadap alam semesta, memiliki ikatan tersendiri dengan seluruh manusia, mempunyai misi pribadi dalam berinteraksi dengan mereka, dan memiliki tujuan yang harus dicapai dalam jalan hidupnya. Semua itu membuat ruang gerak manusia Muslim jauh lebih luas daripada manusia yang memiliki keyakinan dan ideologi yang berbeda dengan mereka.

Begitulah peradaban menurut pemahaman seorang muslim; adalah bentuk entitas manusia yang memiliki kepribadian moral dan nurani yang tulus dalam merawat dan menikmati titipan Tuhan yang ada disemesta alam.

Penulis: Badui Sudani

Tinggalkan Balasan

Artikel Terbaru

Instagram Post

Rundown Acara Konfercab ke-21 PCINU Sudan Ayo ikuti keseruan rangkaian acara Konfercab ke-21 PCINU Sudan dengan tema “Satu Abad NU; Meneguhkan Peran Khidmah dan Aktualisasi Visi Multirateral An-Nahliyyah” , mulai tanggal 27 September 2022 - 22 Oktober 2022 _________________________________________ Ikuti terus Akun media sosial PCINU Sudan agar kalian tidak ketinggalan acara-acara dan info menarik terkait PCINU Sudan Instagram : pcinusudan Facebook : Nu Sudan YouTube : PCINU Sudan Website : www.pcinusudan.com _________________________________________ #PCINUSudan #KONFERCAB21NUSudan #GointernasionalNU #KoinKONFERCAB #MuslimatNUSudan #NahdlatulUlama
%d blogger menyukai ini: